Kementerian Pertanian (Kementan) menjamin stok bawang tercukupi menjelang lebaran Idul Fitri. Pasalnya produksi bawang merah di sentra-sentra produksi terpantau aman. Bahkan bawang putih lokal pun terlihat mulai dijajakan di pasar dan bersaing dengan bawang putih impor. Hal ini yang membuat Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto begitu optimis jika ketersediaan bawang hingga lebaran Idul Adha nantinya tersedia cukup.

Saat melakukan monitoring produksi bawang di Demak dan Temanggung, Anton dan Tim Kementan bertemu petani, memantau fluktuasi harga di pasar, dan berdiskusi dengan para pedagang bawang. Anton sapaan akrabnya menyampaikan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo untuk mengawal ketersediaan bawang dan cabai menjelang Hari-hari Besar Keagamaan (HBKN). “Pak Menteri memerintahkan saya untuk melakukan monitoring, kami langsung bergerak dan pantau semua, tadi kami ke gudang-gudang bawang di pasar Legi Parakan Temanggung, alhamdulillah stok banyak dan harganya juga stabil”, terangnya.

Geliat Bawang Putih Lokal Semakin Nyata

Berdasarkan data monitoring Early Warning System (EWS) yang dirilis Ditjen Hortikultura Kementan baru-baru ini, produksi bawang putih bulan Mei 2021 yaitu 7.786 ton, sementara perkiraan kebutuhan konsumsi 47.084 ton. Meskipun produksi bawang putih lokal masih belum dapat mensubstitusi impor yang mencapai lebih dari 90%, namun di beberapa tempat diketahui minat masyarakat untuk mengkonsumsi bawang putih lokal semakin meningkat. sebut saja pabrik kerupuk di Temanggung, permintaan mencapai 2 kuintal per minggu. Aromanya disinyalir lebih kuat 2-3 kali lipat dari bawang impor dan membuat rasa masakan semakin nikmat.

Hal ini yang membuat Kementan akan terus mengembangkan kawasan pertanaman bawang putih, tidak hanya di sentra, namun ke wilayah non sentra lainnya di seluruh Indonesia. Data BPS menunjukkan terdapat kenaikan produksi 4x lipat dari sebelumnya hanya berkisar 20 ribu ton per tahun menjadi 80 ribu ton per tahun.

Ditemui di lahan pertanaman bawang putih Desa Bansari, Kec. Parakan,Kab. Temanggung, Pakar Bidang Lingkungan Universitas Putra Malaysia itu menyebutkan adanya perubahan yang signifikan pada pertanaman bawang putih di Temanggung. “Jadi setahun yang lalu waktu saya kesini, benih bawang putih itu siungnya kecil-kecil, tapi kalau sekarang ini saya jamin, saya yakin tidak kalah dengan bawang putih produksi luar, apalagi kita itu rasanya jauh lebih wangi daripada yang impor, saya yakin suatu saat nanti bawang putih kita siungnya akan semakin bagus. Jadi saya sarankan kepada petani saat menanam bawang putih, harus memilih yang siungnya besar, siung yang kecil jangan ditanam”, tegasnya.

Sejauh mata memandang, pertanaman bawang putih di bawah lereng gunung Sindoro dan gunung Sumbing memang tumbuh subur. Petani yang juga penangkar benih bawang putih Siswanto mengaku sangat antusias menanam bawang putih saat ini, sebab selain pertumbuhannya bagus, nilai bisnisnya juga menjanjikan. “Kami akan terus menanam bawang putih, ini nilai jualnya tinggi, produknya juga tahan lama, apalagi saat ini dukungan pemerintah sangat bagus, untuk modal pun kita bisa gunakan KUR, sampai di angka Rp.50 juta itu tidak ada agunan, pemerintah yang jamin, jadi apalagi yang kita ragukan”, ungkap Siswanto.

Terpantau di lapangan, harga bawang putih saat ini di tingkat petani yaitu Rp.12 ribu, harga di pasar mencapai Rp. 17 ribu, sementara BEP nya hanya Rp.9 ribu. Tentunya hal ini dinilai sangat menguntungkan, sehingga petani antusias untuk menanam bawang putih. Ke depannya, Kementan berharap bawang putih lokal bisa memenuhi seluruh kebutuhan pasar dalam negeri serta mampu kembali berjaya seperti halnya Indonesia mandiri bawang putih di tahun 90-an.