SIMURP merupakan proyek yang mengelola optimalisasi dan modernisasi layanan sistem irigasi agar lebih efektif, efisien dan berkelanjutan. Proyek ini bersumber dari Loan Agreement antara Pemerintah Indonesia dengan World Bank (WB) dan Asian Infrastructure Invesment Bank (AIIB). Pengelolaannya ada pada lintas empat Kementerian dan Lembaga yaitu Bappenas, Kementan, Kementerian PUPR dan Kementerian Dalam Negeri. 

Menurut Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, bantuan sarpras teknologi informasi akan membuat BPP Kostratani di Kabupaten terkoneksi dengan Agriculture War Room (AWR) Kementerian Pertanian. Secara bertahap, Kementan akan memperkuat seluruh BPP di Indonesia menjadi Kostratani.

“Sarpras yang diberikan berupa komputer dan fasilitas internet. Koneksi antara BPP Kostratani dengan AWR akan mempercepat dan mempermudah dalam pemantauan data produksi, luas tanam dan luas tanam dan panen panen komoditas strategis peranian sekaligus memantau  aktivitas para petani dan penyuluh di daerahsecara riil time. Hal ini sesuai peran BPP sebagai pusat data dan informasi,” kata Mentan SYL, Sabtu (22/08/2020).

Selain penguatan sarpras, BPP Kostratani juga akan diperkuat sumberdaya manusia, terutama penyuluh dan petani. Agar BPP Kostratani tidak hanya mampu berperan sebagai pusat data dan informasi, tapi juga sebagai pusat gerakan pembangunan pertanian, sebagai pusat belajar, sebagai pusat konsultasi agribinis dan pusat pengembangan kemitraan.

“BPP menjadi tempat bertanya para petani. Sehingga penyuluh perlu mendapat pembekalan pengetahuan dan keterampilan baik teknis maupun manajemen,” ujarnya.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, mengatakan selain sarpras hal penting yang harus dilakukan adalah penguatan SDM.

“BPPSDMP memperkuat SDM dengan dilatihnya 20 orang penyuluh pendamping kegiatan SIMURP dari  4 (empat) BPP Lokasi SIMURP, di Balai Besar Pelatihan Pertanian Ketindan. Pelatihan tersebut mengenai pertanian cerdas iklim (CSA). Pengetahuan ini akan diajarkan pada para petani dan diharapkan nantinya dapat diterapkan para petani yang berdampak pada meningkatkan produksi, meningkatkan indeks pertanaman bahkan menurunkan gas rumah kaca,” ujarnya

Ditambahkan Dedi,  sebagai pusat gerakan pembangunan pertanian, penyuluh pertanian dituntut lebih aktif untuk melakukan koordinasi dengan berbagai pihak agar pembangunan pertanian didaerah dapat diintegrasikan dan diaplikasikan dengan baik.

“Penyuluh harus mampu menggerakkan para pelaku utama dan memadukan petugas fungsional di lapangan sehingga kegiatan pembangunan di lapangan dapat disinergikan dengan baik yang pada akhirnya menghasilkan sumberdaya manusia yang professional dan mandiri,” katanya.

Lokasi kegiatan SIMURP Provinsi Jawa Timur ada di Kabupaten Jember yang masuk dua daerah irigasi (DI) Talang dan Pondok Waluh. Kegiatan SIMURP diharapkan dapat meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) melalui kegiatan CSA atau Pertanian Cerdas Iklim.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas, mengajarkan budidaya pertanian yang tahan terhadap dampak perubahan iklim, mengurangi gagal panen, mengurangi Gas Rumah Kaca (GRK)  serta meningkatkan pendapatan petani khususnya di Daerah Irigasi Proyek SIMURP.(NF)