Sebanyak 8 provinsi di wilayah Indonesia menjadi daerah percontohan untuk penerapan konsep pertanian cerdas iklim (Climate Smart Agriculture). Konsep ini dilakukan oleh Kementerian Pertanian melalui proyek SIMURP (Strategic Irrigation Modernization and Urgent Rehabilitation Project). Tujuan dari proyek ini nantinya akan berujung kepada antisipasi dampak perubahan iklim dunia.

Menurut Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDMP Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian Dedi Nursyamsi, Indonesia diperkirakan akan mengalami kemarau panjang beberapa tahun kedepan dan CSA ini sangat dibutuhkan untuk menjaga stabilitas pangan nasional.

“Indonesia akan mengalami musim kemarau panjang kedepannya. Untuk itu, para penyuluh dan petani harus segera melakukan percepatan tanaman agar disisa musim hujan ini petani masih bisa panen, untuk menjaga ketersediaan dan ketahanan pangan. Terutama di masa pandemi COVID-19.” katanya.

Hal ini tentu menjadi kabar baik untuk para petani di 8 provinsi yang menjadi proyek percontohan pertanian cerdas iklim. Salah satunya di wilayah Bantul, Yogyakarta, Ketua Kelompok Tani Lestari Mulyo, Juari mengucapkan terimakasih kepada Kementerian Pertanian karena sudah membekali para petani tentang dampak perubahan iklim dengan menggunakan pestisida.

Selain itu, Mulyo juga mengatakan bahwa selama ini para petani tidak menyadari dengan penggunaan pupuk kimia bisa meningkatkan kadar konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK). “”Alhamdulillah sekarang itu kita dapat ilmu dari Kementan tentang berbudidaya ramah lingkungan. Penggunaan PGPR, Trichodherma, penggunaan liat kuning dan pemanfaatan refugia bisa berdampak pada penurunan efek GRK di sektor hortikultura ini,” pungkasnya. (NF)