Para poktan atau kelompok tani bawang merah di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, siap membantu dunia untuk mengantisipasi dampak pemanasan global. Hal ini menjadi salah satu strategi Kementerian Pertanian untuk menggenjot komoditas holtikultura yang sehat dan berdaya saing tinggi.

Menurut Direktur Perlindungan Hortikultura Kementan, Inti Pertiwi, sudah ada tim yang tergabung untuk meninjau dan memberikan langkah konkret untuk mengantisipasi gas rumah kaca di beberapa daerah yang menjadi sub sektor holtikultura di Kawasan Bantul, Yogyakarta.

“Tim saat ini berada di lokasi. Tepatnya di kampung hortikultura kawasan bawang merah ramah lingkungan di Nawungan, Imogiri Bantul. Hal ini kita harapkan bisa menjadi langkah konkret dalam rangka mengantasipasi peningkatan konsentrasi gas rumah kaca di sub sektor hortikultura”. Katanya.

Koordinator Dampak Perubahan Iklim dan Bencana Alam, Direktorat Perlindungan Hortikultura, Muhammad Agung Sunusi saat ditemui di lapangan juga menjelaskan bahwa pengukuran gas rumah kaca ini dilakukan secara bertahap.

“Iya, ini kita laksanakan selama lima periode. Sekarang ini adalah periode awal pengukuran. Pengukuran selanjutnya dilakukan pada umur 15 hari setelah tanam (HST), disusul 30 HST, 45 HST dan 60 HST. Dengan demikian pengamatan dan pengambilan sampel terpenuhi,” terangnya.

Di tempat berbeda, Ketua Kelompok Tani Lestari Mulyo, Juari mengapresiasi langkah Kementan ini. Juari menilai bahwa sejauh ini memang petani tidak menyadari jika penggunaan pestisida dan pupuk kimia bisa meningkatkan kadar konsentrasi GRK.

“Alhamdulillah sekarang itu kita dapat ilmu dari Kementan tentang berbudidaya ramah lingkungan. Penggunaan PGPR, Trichodherma, penggunaan liat kuning dan pemanfaatan refugia bisa berdampak pada penurunan efek GRK di sektor hortikultura ini,” paparnya.

Petani bawang merah itu juga berpesan kepada seluruh petani di negeri ini untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia. Ada pupuk kandang atau pupuk kompos yang bisa menggantikan. Begitu juga dengan pestisida bisa substitusi dengan likat kuning dan lampu pengusir hama atau light traps.(NF)