Pelatihan pertanian cerdas iklim atau Climate Smart Agriculture (CSA) proyek SIMURP di BPP Ajung, Apalagi saat ini sedang terjadi anomali cuaca.Jember, Jawa Timur dinilai tepat sasaran.

Penyuluh pertanian BPP Ajung Bestyan Fikri Diyah Ghoriza menjelaskan, yang menjadi peserta dalam Trining of Trainer (ToT) di Balai Besar Pelatihan Pertanian Ketindan.

Bestyan menjadi narasumber dalam ToF (Training of Farmer) yanng mengajarkan penerapan teknologi pertanian cerdas iklim pada petani di lokasi proyek SIMURP di BPP Ajung.

Bestyan memberikan materi tentang Optimalisasi dan Tata Kelola Lahan & Air dan teknologi irigasi intermiten (Alternate Wetting and Drying /AWD).

“Pada prinsipnya, materi ini mengajarkan budidaya pertanian yang hemat air serta mengelola pertanian ramah lingkungan,” ucapnya.

petani merespon baik pada meteri ini.Sebab, perubahan iklim saat ini yang menjadi kurang bersahabat dan semakin minimnya sumber daya air dan sumber daya lahan produktif karena alih fungsi lahan.

Bestyan mengungkapkan, dampak perubahan iklim harus dihadapi melalui strategi mitigasi dan adaptasi yang sesuai kondisi di lapangan.

“Antara lain budidaya pertanian hemat air, pemakaian varietas unggul tahan cekaman iklim dan meminimalisir pelepasan emisi GRK (CH4, N2O dan CO2), penggunaan pupuk berimbang dan pupuk organik untuk memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan bahan organik dalam tanah,” ujarnya.

Bestyan menambahkan,point yang tidak kalah penting adalah menjaga pH tanah agar tidak asam dan menjaga agar mikroorganisme dalam tanah tetap terjaga.

Petani juga diajarkan tentang teknologi hemat air dengan menerapkan sistem pengairan basah kering (AWD) secara berselang dengan menggunakan alat berupa paralon sebagai alat untuk mengukur kecukupan air sebagai upaya meningkatkan efisiensi pemakaian air dan mudah diaplikasikan oleh petani.

“Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukannya di Kebun Percobaan Balingtan Pati, kelangkaan air di lahan sawah dapat ditekan bahkan dapat dihindari, salah satunya dengan menerapkan teknologi AWD. Teknologi ini, mampu menghemat penggunaan air irigasi sebesar17-20% dan menekan emisi gas rumah kaca antara 35-38%,” ungkapnya.

Bestyan pun ikut senang karena petani paham bagaimana mengukur kebutuhan air meskipun dengan menggunakan alat ukur sedehana berupa paralon.Melalui praktek petani mampu membuat pupuk organik dan membedakan tanah yang subur dengan kandungan bahan organik dengan tanah yang kurang subur.

Petani juga bisa mengukur pH tanah denga cara sederhana dan dapat  memahami jenis tanah yang yang berareasi baik dan manfaat aerasi baik untuk tanaman.

Dengan kegiatan pelatihan CSA ini,bukan hanya petani, yang merasakan manfaatnya juga para penyuluhnya, hal ini diakui Bastyan dan pelatihan CSA SIMURP datang disaat yang tepat disaat terjadi anomali iklim.

“Penyuluh dan petani telah mendapat pencerahan dan akan segera menerapkan di lahan masing-masing dan penyuluh juga akan terus meningkatkan pengetahuan dan ilmunya sebagai modal dalam mendampingi petani dalam menerapkan teknologi hemat air serta budidaya yang ramah lingkungan agar petani mampu meningkatkan intensitas pertanaman (IP) dan produksi usahataninya,” tutupnya.