Kementerian Pertanian mengembangkan Strategic Irrigation and Urgent Rehabilitation Project (SIMURP) supaya mendongkrak produksi pangan pada daerah irigasi.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi menjelaskan saat virtual meeting kepada Tim SIMURP Pusat dan Daerah,semua pinjaman hibah dan luar negeri (PHLN) merupakan andalan utama Kementan, tanpa terkecuali SIMURP.

”SIMURP harus mendukung semua kegiatan Kementan. Selain itu, gerakan ketahanan pangan nasional inline dengan SIMURP,” ucapnya.

 SIMURP bertujuan untuk meningkatkan produksi di daerah irigasi dengan menggunakan peningkatan Indeks Pertanaman (IP) dengan pendekatan Climate Smart Agriculture (CSA) atau pertanian cerdas iklim melalui teknologi maju,efisien, ramah lingkungan, namun meningkatkan produksi.

“Daerah irigasi kata kuncinya percepatan tanam, untuk itu semua lokasi SIMURP harus segera melakukan percepatan tanam. Tidak boleh ada kata jeda karena semua proses harus berputar secara cepat dan tepat. Pangan tidak boleh ‘delay’ dan pangan harus ada setiap saat,” terang Dedi.

Dedi menambahkan,produksi beras pun pemasukannya

meningkat pesat secara nasional dan itu berkat kerja keras semua pihak dan merupakan realisasi percepatan. Tim SIMURP harus kerja keras dan kerja gesit dan tidak boleh santai.

“Selain itu, pendekatan pemberdayaan SDM melalui petani, penyuluh pertanian, sarana prasarana, IT serta pengelola SIMURP Pusat dan daerah, merupakan salah satu faktor keberhasilan SIMURP guna mendukung gerakan ketahanan pangan nasional. Di mana setiap keluarga mampu mengakses pangan secara mandiri artinya sudah mencapai ketahanan pangan nasional, baik produknya maupun daya belinya,” katanya.

Dedi menjelaskan bahwa SIMURP digerakan juga untuk penguatan IT sehingga saat pandemi COVID-19 mau tidak mau semua harus memaksimalkan IT.

“Dengan IT semua pesan-pesan tentang inovasi teknologi yang dibutuhkan petani dapat tersampaikan. Dengan IT pula kita bisa berkoordinasi dengan kegiatan pelatihan-pelatihan tanpa bertatap muka atau melalui virtual meeting,” jelasnya,

Menteri Pertanian Syahril Yasin Limpo menambahkan bahwa petani harus berperan aktif untuk menjaga stok pangan dengan menyegerakan pengolahan lahan setelah panen.

“Ancaman yang lebih besar dari pandemi COVID-19 adalah kelaparan. Untuk itu, petani harus tetap bekerja demi menjaga keamanan pangan rakyat Indonesia. Negara dan bangsa memanggil kita semua untuk bekerja lebih kuat, dalam ancaman COVID-19. Jangan pandang enteng, tetap pakai masker, rajin cuci tangan, dan jaga jarak aman untuk menghindarkan diri dari serangan COVID-19,” terangnya.

Menteri Syahrul menjelaskan, pahlawan yang tidak akan kalah penting selain dokter di rumah sakit dalam menghadapi COVID-19 adalah petani.

Menurutnya,” petani tetap bekerja keras untuk menghasilkan pangan, dan pemerintah sangat berterima kasih atas kerja keras yang telah dilakukan oleh petani”,tutupnya

Mentan juga berpesan agar petani tetap menjaga kesehatan dengan mengikuti prosedur covid dari Kementerian Kesehatan.(RO/NF)