JAKARTA, Mekraf.id – Food Estate (FE) adalah upaya Pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pangan seiring dengan peningkatan jumlah penduduk Indonesia. Lahan yang digunakan pada kawasan Food Estate merupakan lahan marjinal, seperti rawa pasang surut. Lahan tersebut dioptimalkan untuk menggenjot produksi padi melalui perluasan areal dan peningkatan produktivitas dengan teknologi modern.

Sesuai dengan arahan Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) bahwa dalam memproduksi hasil pertanian seringkali dihadapkan dengan berbagai permasalahan. Sehingga pengelolaan dan penanganan pertanian setiap daerah memang tidak bisa disamakan. Untuk menghadapinya diperlukan kerja sama disetiap pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun petani. Ini dilakukan, guna mendorong produksi pertanian supaya bisa lebih optimal.

“Kalau di lahan rawa hasil panennya bisa 5 ton per hektar dan ini merupakan prestasi yang sangat membanggakan. Untuk melawan Covid-19 tidak hanya dengan vaksin saja, tapi juga dengan ketersediaan pangan yang cukup”, ujar SYL.

Lebih lanjut SYL menegaskan bahwa persoalan pertanian itu selalu dinamis. Jadi, kelompok tani harus lebih kuat, yang harus diperhatikan adalah saling kerja sama dan sempurnakan yang kurang.

Sejalan dengan itu, Kepala Badan Pengembangan dan Penyuluhan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi pada acara Ngobrol Asyik (Ngobras) Selasa (6/4/2021) mengungkapkan bahwa program FE akan memanfaatkan lahan rawa dimana kondisi lahan rawa berbeda dengan lahan lain.

“Dengan intensifikasi lahan eksisting, kita tingkatkan produktivitas, indeks pertanaman dengan perbaikan jaringan irigasi, alsintan dan pemanfaatan varietas. Sedangkan untuk memperbaiki jaringan irigasi yang sudah banyak tersumbat akibat pengendapan melalui ekstensifikasi”, ujar Dedi.

Acara Ngobras untuk episode kali ini mengambil tema tentang “Penggelolaan Lahan Rawa untuk Pertanian Berkelanjutan” dan menghadirkan narasumber Muhammad Noor yang merupakan Peneliti Utama pada Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa.

Muhammad Noor mengungkapkan bahwa banyak kendala yang dihadapi dalam penanaman di lahan rawa. Salah satunya masalah Fisiko – Kimia, yaitu pH tanah air rendah, keracunan Fe/pirit, kesuburan rendah, Fluktuasi air atau banjir.

Selain itu, penataan lahan rawa dapat dilakukan dengan sistem sawah, sistem surjan dan sistem tukungan. Sedangkan pengendalian OPT di lahan rawa dapat di lakukan dengan menggunakan pestisida nabati menggunakan sumber daya lokal, pestisida sesuai ambang ekonomi, pemanfaatan musuh alami, Tanaman Perangkap (Refugia) serta pengendalian tikus menggunakan “Trap Barrier System”.

Pada akhir acara Muhammad Noor menjelaskan bahwa dalam pengembangan lahan rawa diperlukan beberapa faktor pendukung agar lahan dapat dikembangkan secara baik dan terarah. Diantaranya dengan melakukan percepatan pembangunan infrastruktur yang mendukung dan merata untuk peningkatan IP dan pembentukan/perbaikan Kelembagaan Agribisnis Petani (Korporasi Petani) termasuk Penyuluhan yang dikelola secara profesional. Untuk itu diperlukan investasi modal dan pemasaran yang didukung oleh pengusaha atau pemodal setempat sebagai mitra petani dengan kontrol pemerintah Pusat dan daerah. (HVY/NF)