Jakarta, Mekraf.id – Kegiatan pertanian tidak hanya sebatas tanam dan panen. Insan pertanian juga dituntut menjalin kemitraan memaksimalkan semua potensi pertanian. Hal tersebut bisa dilakukan melalui kegiatan Field Day atau Temu Lapang.

Field Day merupakan bentuk implementasi dari penyuluhan yang berazaskan demokrasi sebagai gerakan masyarakat di lapangan. Field Day juga melibatkan petani, pengusaha, peneliti, penyuluh, Pemerintah dan Pemerintah Daerah secara bersama-sama membangun petani agar memiliki jiwa wirausaha untuk memajukan pertanian secara keseluruhan. Lewat Field Day, penerapan taknologi pertanian juga bisa dilakukan.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, desa akan menjadi baik dan kuat apabila penyuluh pertanian bisa memanfaatkan dan mengadaptasikan teknologi hasil-hasil penelitian.

“Selain itu, pembangunan pertanian perlu melibatkan peran penyuluh sampai di kecamatan. Karena Penyuluh pertanian merupakan inti dari agent of change pembangunan pertanian. Karena itu, jadilah penyuluh pertanian yang hebat, disayangi serta ditunggu oleh semua masyarakat pertanian,” katanya.

Lebih lanjut Mentan Syahrul mengungkapkan, penyuluh adalah otaknya masyarakat di bawah. Penyuluh harus mampu mengelola tata kelola pertanian yang ada di masyarakat. Penyuluh juga harus berperan sebagai pasukan ‘Kopasus’ pertanian.

“Peranan penyuluh baik PNS, ASN, Swasta, Swadaya yang ada pada semua tingkat baik di Kostranas, Kostrawil, Kostrada dan Kostratani berfungsi semacam Event Organizer dalam pelaksanaan Field Day bersama Pemerintah dan Pemerintah Daerah,” jelasnya.

Menurut Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi, pada kegiatan Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) Volume 10, Jumat (26/3/2021), di ruang AOR BPPSDMP, mengatakan bahwa Field Day merupakan sarana menjalin ajang kemitraan sesama penyuluh, petani, eksportir yang terkait dengan bisnis pertanian.

“Field Day berfungsi sebagai tempat sharing pengalaman antara petani dan petani, penyuluh dan petani serta penyuluh dan penyuluh,” ujar Dedi.

Selain itu Field Day merupakan wadah petani, penyuluh, stakeholder bidang pertanian untuk berbagi pengalaman masing-masing, sehingga menambah hasanah cakrawala petani dan penyuluh.

“Sedangkan Kostranas, Kostrawil, Kostrada dan Kostratani merupakan lembaga penggerak pelaksanaan Field Day atau Temu Lapang yang bersama-sama dengan Pemerintah dan Pemerintah Daerah agar dapat menggerakkan seluruh stakeholder untuk berpartisipasi dalam program tersebut,” tegas Dedi.

Direktur Utama dan Pemimpin Umum Majalah Swadaya, Sinis Munandar, hadir selaku narasumber pada kegiatan tersebut. Ia mengatakan, adanya media cetak, elektronik, online dan medsos setempat yang meliput setiap pelaksanaan Field Day, maka yang terjadi adalah “Demam Penyuluhan”.

Suksesnya program penyuluhan, merupakan bagian dari suksesnya pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki karakter dan berahlak mulia serta memiliki etos kerja tinggi demi kemajuan bangsa (nation and character building).

“Field Day dilaksanakan pada suatu lapangan yang luas, terbuka dan didirikan tenda-tenda dimana para pengusaha/pedagang sarana produksi menjajakan produk-produknya. Selain itu Field Day juga menjajakan hasil-hasil penelitian dari Lembaga Penelitian, Perguruan Tinggi dan Masyarakat, Bank, Lembaga Keuangan Mikro dan hasil Penyuluhan. Dalam kesempatan itu, masyarakat bisa melakukan transaksi langsung dengan pengusaha/penjual produk,” tutupnya. (HVY/NF)