Jakarta, Mekraf.id – Sektor pertanian berperan strategis memenuhi pangan 270 juta jiwa di seluruh Indonesia. Kontribusinya menyediakan bahan pangan, bahan baku industri, bioenergi, dan penyerapan tenaga kerja. Daya dukungnya ditentukan oleh penyuluh pertanian, garda terdepan pembangunan pertanian yang menuntut hadirnya penyuluh yang bekerja tulus, serius, tanggung jawab dan berdedikasi terhadap profesinya.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo berulang kali mengingatkan tentang kunci pembangunan pertanian pada sumber daya manusia (SDM) pertanian. Tugas utama penyuluh adalah membangun SDM pertanian melalui peningkatan produktivitas, kualitas dan kontinyuitas sektor pertanian.

“Kementerian Pertanian akan terus mengoptimalkan SDM pertanian untuk menggenjot produksi dan produktivitas bahkan ekspor,” kata Mentan Syahrul.

Penyuluh pertanian, kata Mentan, adalah inti dari agent of change pembangunan pertanian, karena itu, penyuluh harus hebat dan piawai mengelola potensi pertanian.

Instruksi dan arahan Mentan Syahrul, kembali ditegaskan oleh Kepala Badan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi di Jakarta, Selasa (2/3) pada video conference Ngobrol Asyik Penyuluhan Vol. 5 (ViCon Ngobras) bertajuk ‘Kiat jadi Penyuluh’ yang dihadiri Ketua Dewan Pembina Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) Mulyono Machmur selaku keynote speaker Ngobras.

“Kunci pembangunan pertanian adalah SDM Pertanian, siapa lagi yang mempunyai peran menyediakan pangan kalau bukan petani dan penyuluh,” kata Dedi Nursyamsi.

Menurutnya, penyuluh harus mampu mendorong peningkatan produktivitas pertanian melalui inovasi teknologi dan sarana prasarana 25%, kebijakan dan regulasi 25%, sementara SDM pertanian 50%.

Peningkatan produktivitas SDM pertanian mempunyai nilai lebih besar dikarenakan SDM pertanian mempunyai peran penting dan pengaruh besar dalam bidang pertanian.

“Peningkatan produktivitas SDM pertanian nilainya lebih besar, karena SDM pertanian berperan penting dan berpengaruh besar pada sektor pertanian,” kata Dedi.

Mulyono Machmur menegaskan lagi bahwa penyuluhan adalah proses pendidikan, maka penyuluhan harus dapat membawa perubahan manusia dalam aspek-aspek perilaku baik kognitif, afektif dan psikomotorik.

“Penyuluh bukan hanya memiliki kompetensi hard skill, juga harus memiliki kemampuan soft skill yakni keunggulan pada etika, emosional, integritas, motivasi, kreatifitas, intuisi, komunikasi dan kepemimpinan,” katanya lagi.

Produktivitas sektor pertanian nasional dimulai dari wilayah binaan masing-masing penyuluh, sehingga dituntut mampu mendorong peningkatan produktivitas.

“Dengan kata lain, keberhasilan pembangunan pertanian nasional tergantung pada kinerja penyuluh mendukung peningkatan produktivitas wilayah binaan masing-masing,” kata Mulyono. (Hvy)