Cirebon, Mekraf.id – Ketahanan pangan nasional menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman krisis setelah wabah pandemi corona ini berakhir. Seluruh negara di dunia di masa pemulihan nanti akan mulai menyusun kekuatan pangannya masing-masing. Salah satunya yakni dengan meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) berkomitmen untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional khususnya di Jawa Barat. Karena sektor pertanian menjadi solusi nyata terhadap dampak yang diakibatkan pandemi Covid-19, terutama dengan melemahnya ekonomi nasional.

“Sektor pertanian merupakan sektor yang eksis pada krisis apapun. Itu tandanya pertanian menjadi kekuatan suatu negara. Kenapa? Karena makan tak bisa ditunda, makan tak bisa menunggu hari dan ini menjadi pekerjaan yang tidak akan pernah putus.” ujar Mentan SYL.

Hal ini dipertegas kembali oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi bahwa “virus corona memang meluluh lantakkan aspek kehidupan, termasuk sektor pertanian yang mempunyai tupoksi menyediakan pangan. Mulai dari sistem produksi hingga distribusi terganggu”.

Lebih lanjut Dedi mengungkapkan bahwa saat ini masih ada beberapa bahan pangan yang masih impor, namun pemerintah terus memikirkan agar Indonesia mampu menyediakan pangan sendiri dan memanfaatkan pangan lokal.

Sementara itu, kegiatan panen MT. 1 tahun 2020/2021 sedang dilaksanakan di wilayah BPP Lemahabang Kabupaten Cirebon- Jabar. Kegiatan ubinan tengah dilakukan oleh Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Desa Susukanlebak bekerjasama dengan petugas BPS dan KSA.

Menurut Lia Syafria Ulfah, S.Pt atau yang sering dipanggil Lia selaku admin BPP Lemahabang, ubinan yang dilakukan Jum’at (26/02/2021) merupakan sawah milik Arif yang berlokasi di Blok Ranca, Desa Susukanlebak Kec. Susukanlebak.

“Dengan menggunakan tanaman padi varietas Inpari 33 dengan luas lahan 0,9 hektar. Hasil ubinan yang di dapat sebesar 5 kg/ubinan, dengan produktivitas 8 Ton/ha GKP atau 7,16 Ton/hektar GKG”, ungkap Lia.

Produktivitas tanaman padi ditahun ini meningkat dibandingkan tahun lalu karena tahun lalu rata-rata produksinya nya hanya mencapai 7,2 ton/ha GKP. Tanaman padi tersebut menggunakan pupuk phonska sebanyak 400 kg, urea 30 kg, ZA 50 kg, dan phonska plus 2 kg.

Dibandingkan dengan sawah milik petani lain, tanaman padi milik Arif termasuk bagus karena tidak terkena serangan hama kresek.

“Salah satu faktornya bisa dikarenakan penggunaan pupuk urea yang sedikit. Karena jika kebanyakan urea akan menjadikan tanaman sukulen sehingga tanaman akan menjadi mudah terserang hama maupun penyakit selain juga akan merusak kesuburan tanah, tanah menjadi masam, dan tanah yang masam akan mengakibatkan penyerapan unsur hara tertentu menjadi terhambat”, tutupnya. (YTS/HVY/NF)