Guna memaksimalkan kinerja para pengelola Strategic Irrigation Modernization and rgent Rehabilitation Project (SIMURP) Pusat dan daerah, BPPSDMP melaksanakan Sosialisasi Pedoman SIMURP TA 2021 pada (26/02/2021) di Bogor.

SIMURP merupakan proyek yang bersumber dari Loan Agreement antar Pemerintah Indonesia dengan World Bank (WB) dan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB). Pengelolaannya ada pada lintas empat Kementerian dan Lembaga yaitu BAPPENAS, Kementerian PUPR, Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Pertanian.

Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo mengatakan kepada seluruh jajarannya, harus mensukseskan program-program utama Kementan tanpa terkecuali Proyek SIMURP.

“Program-program utama Kementan lainnya yang harus didukung diantaranya Kostratani dan peningkatan pemberdayaan petani dan penyuluh. Semuanya merupakan kunci keberhasilan pembangunan pertanian dan pembangunan pertanian dimulai dari penyuluhnya, dengan meningkatkan kapasitas dan keterampilan penyuluh sehingga produksi pangan bagi 267 juta jiwa penduduk Indonesia tercapai”, ujar SYL.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi menegaskan kembali bahwa CSA merupakan kunci andalan SIMURP sehingga harus betul-betul dipahami oleh seluruh pelaksana SIMURP Pusat dan daerah.

Tujuan utama dari SIMURP adalah meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani hal ini sejalan dengan program utama Kementan. Dan fokus kegiatan SIMURP adalah Climate Smart Agriculture/CSA atau Pertanian Cerdas Iklim.

Kegiatan CSA bertujuan untuk meningkatkan produksi dan produktivitas, mengajarkan budidaya pertanian yang tahan terhadap perubahan iklim, mengurangi risiko gagal panen, mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) serta meningkatkan pendapatan petani di khususnya di Daerah Irigasi Proyek SIMURP.

“Implementasi CSA juga wajib diterapkan oleh seluruh pengelola SIMURP baik di Pusat maupun di daerah”, ujarnya.

Perubahan iklim yang ekstrim juga mempengaruhi peningkatan emisi GRK, maka gunakanlah iptek yang ramah lingkungan yang mampu mengurangi emisi GRK. Inovasi dan teknologi yang ramah lingkungan juga harus diterapkan dalam mengimplementasikan CSA sehingga dapat mengurangi emisi GRK. Dedi mengatakan, pengelolaan sawah jangan sampai menghasilkan emisi gas metan karena sawah merupakan sumber pangan seluruh rakyat Indonesia.

“Sawah jangan dibiarkan tergenang terus, sawah yang bagus itu tergenang kering tergerang kering. Gunakan pestisida yang tepat dan aman dengan dosis yang tepat dan gunakan pupuk secara berimbang, semuanya diberikan pada saat yang tepat”, tegas Dedi.

Dedi mengingatkan Kembali jika SIMURP merupakan program antar lintas Kementerian/Lembaga, dimana ada 4 KL yang ikut mengawalnya. Semuanya harus saling bahu membahu dan support serta bekerjasama dengan baik antara Pusat dan daerah. (NF)