Jakarta, Mekraf.id – Kegiatan Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) kembali digelar, Jumat (5/2/2021). Kali ini, kegiatan yang digelar oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) itu mengangkat masalah pupuk hayati yang merupakan salah satu inovasi di bidang pertanian.

MSPP yang dilakukan secara online dari AOR Pusat Penyuluh Pertanian, diikuti oleh 500 peserta via aplikasi Zoom dan 2280 viewers live streaming via Facebook dan Youtube.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan inovasi dibutuhkan di sektor pertanian.

“Ilmu terus berkembang, teknologi semakin maju. Dan pertanian kita pun sudah measuk dalam era 4.0. Artinya, inovasi dan teknologi harus juga diterapkan dalam pertanian. Karena inovasi ini yang bisa membantu kita untuk meningkatkan produktivitas pertanian,” katanya.

Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi, mengatakan bahwa pemupukan berimbang merupakan kata kunci untuk meningkatkan efektivitas dan produktifitas.

“Dan pupuk hayati merupakan solusi dari pengurangan penggunaan pupuk kimia serta merupakan langkah pemupukan berimbang,” jelasnya.

Baca Juga :

Kuartal ke IV Sektor Pertanian Tumbuh Positif 2,59 Persen

Lebih lanjut Dedi mengungkapkan bahwa ia menganalogikan pupuk hayati sebagai koki di rumah makan padang, “Pupuk hayati ibaratnya koki di warung padang. Warung padang diminati karena ada koki yang handal yang membuat makanan kita enak dan bergizi. Pupuk hayati juga seperti itu. Pupuk hayati dapat membantu menyediakan unsur hara yang diperlukan tanaman dan sangat berperan di dalam proses dekomposisi” ungkapnya.

Menurutnya, pupuk hayati bisa menjadi solusi dan inovasi dalam mengurangi kebutuhan pupuk kimia. Apakagi, pupuk subsidi tidak akan mencukupi semua kebutuhan yang diinginkan.

“Pupuk subsidi tidak akan pernah memenuhi 100% kebutuhan lahan pertanian akan pupuk. Oleh karena itu, solusinya adalah bagaimana mengurangi kebutuhan pupuk kimia dan meningkatkan efesiensi pupuk kimia. Bagaimana caranya? yaitu dengan pupuk hayati,” jelasnya.

Sementara Peneliti Senior bidang Mikrobiologi Tanah yang disebut juga Spesialis Pupuk Hayati dari Balittanah Kementan, Edi Husen menjelaskan pupuk hayati (biofertilizer) seringkali dianggap sebagai pupuk organik. Kekeliruan ini sepertinya sepele, namun bisa berakibat fatal jika terdapat kesalahan dalam menggunakannya. 

Pupuk hayati atau mikroba telah dikenal sebagai penambat N, pelarut P dan perombak bahan organik. Selain itu, dengan pupuk hayati tanaman juga dapat terjaga dari pathogen.

Selain sebagai solusi dalam pengurangan kebutuhan pupuk kimia, pupuk hayati juga mempunyai manfaat lain.

“Pengembangan pupuk hayati dapat mengurangi cekaman salinitas dan mengurangi cekaman kekeringan, namun memang terdapat beberapa tantangan seperti popularitasnya yang masih rendah sehingga fungsi pupuk hayati belum banyak diketahui dan teknik aplikasi pupuk hayati juga terkadang masih tidak di pahami oleh masyarakat,” ungkap Edi Husen. (HVY/NF)