Jakarta, Mekraf.id – Kebijakan Pemangkasan Eselon 3 dan 4 di seluruh instansi pemerintah yang telah dilakukan oleh Presiden Joko Widodo masih menyisakan sejumlah masalah. Kementerian Pertanian, kendati sudah melakukan transformasi jabatan dari struktural ke fungsional pada akhir Desember 2020 lalu, namun secara teknis ternyata pola kerja yang dilakukan masih belum mengikuti pola kerja fungsional. Hal ini lantaran dalam jabatan fungsional, ASN dituntut untuk bekerja mandiri dengan melakukan pengumpulan angka kredit setiap tahunnya.

Dalam rangka akselerasi dan peningkatan kapasitas pejabat fungsional, Pangan Institute pada hari Sabtu, 30 Januari 2021, mengadakan acara diskusi bertajuk “Menjadi Pejabat Fungsional yang Kompeten dan Produktif”.

Langkah ini dilakukan untuk merespon banyaknya pertanyaan publik terkait pengumpulan angka kredit, DUPAK, dan strategi peningkatan jenjang karir dalam jabatan fungsional yang baru.

“Pangan Institute hadir untuk merespon berbagai isu dan masalah yang berkembang, sekaligus memberikan rekomendasi kebijakan bagi para pemangku kepentingan agar kebijakan terkait pembangunan pangan dan pertanian berjalan dengan baik, termasuk sumberdaya manusianya juga meningkat,” jelas Akbar, Direktur Eksekutif Pangan Institute yang membuka acara pada kegiatan webinar.

Baca Juga :

Siap Panen, Petani di Lahan Food Estate Raih Hasil Menggembirakan

Akbar menjelaskan bahwa lembaga non profit yang di gaunginya ingin mendorong lahirnya manusia yang berkepribadian tinggi, integritas, dan peduli terhadap isu dan kebijakan pangan dan pertanian sehingga menjadi manusia yang produktif dan bermanfaat untuk pembangunan pertanian yang MAJU, MANDIRI, dan MODERN.

“Oleh karenanya, Pangan Institute didirikan dengan tujuan menjadi lembaga profesional yang berperan aktif dalam mencermati permasalahan sektor pangan dan pertanian dan ikut serta memberikan pemikiran konstruktif yang bersifat obyektif dan independen untuk kemajuan bangsa dan negara,” tegas Akbar.

diakuinya, Isu transformasi jabatan struktural ke fungsional ini sangat seksi dibincangkan mengingat karir dan masa depan Aparatur Sipil Negara bergantung pada jabatan ini.

“Sangat penting bagi ASN untuk melihat peluang penyetaraan jabatan administrator ke jabatan fungsional, diantarnya adalah peluang mendapatkan jabatan fungsional secara ‘istimewa’ pada jenjang Ahli Muda dan Ahli Madya, kedua kemungkinan percepatan kenaikan pangkat/gol,” tutur Pudjiatmoko, Medik Veteriner Ahli Utama, Direktorat Kesehatan Hewan yang menjadi narasumber pertama pada acara webinar.

Pudji, sapaan akrabnya, melihat bahwa saat ini ASN di era V.U.C.A harus mampu menjadi ASN unggul yang pintar untuk membangun Pemerintahan yang berkelas Dunia, karena di era keterbukaan informasi, kualitas SDM dalam negeri dan luar negeri dapat dilihat jelas kapasitasnya.

“Pandemi tidak boleh menghalangi semangat kita untuk melakukan improvisasi, dengan semangat ini kita harus mampu menjadi ASN unggul yaitu dengan memiliki sifat integritas, professional, menguasai IT dan Bahasa Asing, Kewiraswastaan, Keramahan, Wawasan Global, Jaringan yang Luas, dan Nasionalisme yang Tinggi,” tutur Pudjiatmoko ketika menjelaskan terkait perluanya menjadi ASN Unggul.

“sebagai ASN harus mampu berkembang agar mampu menjadi ASN yang Unggul, yaitu dengan memiliki integritas yang tinggi dan memiliki wawasan global sehingga mampu melihat permasalahan dan mencari solusi untuk membangun pemerintahan kelas dunia,” imbuhnya

Dalam Kesempatan yang sama, Dani Kusworo Pengawas Bibit Ternak Ahli Muda serta pernah menjadi ketua BEM Peternakan menyampaikan tentang ‘Strategi Pengumpulan Angka Kredit yang Optimal’. Dani mengungkapkan bahwa Arah Tujuan Jabatan Fungsional merupakan satu hal yang penting untuk diketahui, hal ini bisa didapatkan dengan cara keluar dari Zona Nyaman menuju Zona Kompetitif.

“Angka Kredit menjadi sangat penting untuk di diakusikan karena siapa yang bisa dengan cepat mengumpulkan maka akan cepat naik jenjang. Kuncinya adalah semua aktivitas kita kumpulkan secara rutin, outpunya di catat dengan baik dan nanti diajukan menjadi angka kredit,” jelas Dani

Ia juga menjelaskan bahwa walaupun sudah fungsional, namunsegala jenis arahan pimpinan yang diberikan diluar tugaa utamanya dalam fungsional juga dapat dinilai sebagai angka kredit penunjang selama masih melekat pada tugas fungsi organisasi.

Pada akhirnya, kedua pembicara percaya bahwa setiap orang harus berusaha memulai dari dirinya sendiri, sebelum berusaha mencontohkan ke orang lain. Diskusi diakhiri dengan pesan penutup dari para pembicara. Informasi mengenai kegiatan Webinar Series berikutnya dapat dipantau di Instagram.

Sebelumnya, transformasi Jabatan struktural ke fungsional ini merupakan tindaklanjut Pidato Presiden Joko Widodo terkait penyerdehanaan jabatan pengawas dan administrator. dikatakan bahwa sesuai dengan amanat Bapak Presiden, diharapkan kedepan SDM Indonesia harus berkualitas, berkeahlian, pekerja keras, dinamis, terampil dan menguasai iptek.

Acara Webinar dihadiri 245 peserta dari seluruh Indonesia, yang sebagian besar adalah pejabat struktural yang telah bertransformasi menjadi pejabat fungsional.@panganinstitue