Jakarta, Mekraf.id – Mentri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menjelaskan, pupuk bersubsidi ditujukan untuk memenuhi kebutuhan nasional dengan luas baku sawah 7,46 juta hektar diperlukan 21 juta ton pupuk. Namun Kementan baru memenuhi 9 juta ton pupuk, dimana pangan hanya teralokasi 6,1 juta ton.

“Hasil kajian balitbangtan 2020 nilai tambah produksi sebagai dampak pupuk bersubsidi mencapai Rp 98,4 triliun. Jika dibandingkan anggaran yang digunakan rata-rata dari 2014-2020 Rp 28,1 triliun maka nilai manfaat mencapai di atas 250 persen,” Ujarnya

Adapun terkait dengan produksi padi menurut FAO 2018, produksi padi Indonesia 5,19 ton per hektar lebih tinggi dibandingkan produksi Thailand hanya 3,09 ton per hektar, Filipina 3,97 ton per hektar, India 3,88 ton per hektar,  Pakistan 3,84 ton per hektar, dan beberapa negara lainnya.

Sebagai informasi, Kementerian Pertanian (Kementan) telah menerbitkan Permentan Nomor 49 Tahun 2020 tentang pedoman Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk pupuk bersubsidi tahun anggaran 2021.

Dalam Permentan tersebut, disebutkan harga pupuk urea yang semula Rp 1.800 per kg, naik Rp 450 menjadi Rp 2.250 per kg. Lalu pupuk SP-36 dari HET Rp 2.000 per kg naik Rp 400 sehingga menjadi Rp 2.400 per kg.