Jakarta, Mekraf.id – Selama pandemi covid-19, industri pakan ternak mengalami kontraksi. Produksi pakan yang awalnya diprediksi bisa tumbuh 5-6 persen, justru turun 9,7 persen.

Ketua Umum GPMT (Gabungan Perusahaan Pakan Ternak), Desianto mengatakan, pada tahun 2019 produksi pakan ternak mencapai 19,6 juta ton. Tahun 2020 turun hanya sebanyak 18,6 juta ton.

“Tahun 2020 awalnya diperkirakan bisa tumbuh 5-6 persen, seharusnya sebanyak 21,5 juta ton. Karena ada Covid-19, terjadi goncangan, bahkan diperkirakan turun 35 persen. Namun setelah kita tarik dalam setahun hanya turun 9,7 persen atau jadi 18,6 juta ton atau di bawah tahun 2019,” tutur Desianto saat FGD Sinar Tani, di Jakarta, Rabu (20/1).

Menurutnya, dari 94 pabrik pakan yang ada di Indonesia, sekitar 90 pabrik pakan memproduksi pakan ayam, baik untuk broiler maupun layer. Karena itu, Desianto menilai, hidup mati industri pakan sangat tergantung industri peternakan perunggasan, baik broiler dan layer.

Desianto mengungkapkan, industri pakan ternak 80-85 persen sangat ditentukan raw material. Namun fluktuasi bahan baku pakan tidak serta merta membuat harga pakan bergejolak. “Jadi kenaikan harga pakan tidak selalu dipicu kenaiakn bahan baku pakan. Biasanya industri mencari harga rata-rata agar harga pakan tetap dinamis dan tidak fluktuatif,” katanya.

Dari komposisi bahan baku pakan ternak, bungkil kedelai sebagai sumber protein komposisinya sekitar 25 persen. Sedangkan jagung sebagai sumber karbohidrat komposisinya 50-60 persen.

Desianto menilai, peternak rakyat sudah mengetahui sendiri kualitas pakan yang bagus atau tidak, terutama untuk meningkatkan kualitas daging dan telur. Karena itu, peternak tidak selalu mencari pakan murah, tapi lebih mahal sedikit tidak menjadi masalah asalkan memberikan performance baik untuk menghasilkan daging atau telur.

“Peternak suah mengerti berapa income memproduksi 1 kg telur atau daging, berapa biaya pakan ternaknya. Kalau pakan murah, tapi tidak menguntungkan, peternak tidak akan menggunakan,” katanya.